Menggugat Akal Sehat Dukungan Erick Thohir untuk FIFA

Menggugat Akal Sehat Dukungan Erick Thohir untuk FIFA
Font size:

Beberapa hari terakhir, otoritas sepak bola dunia dikepung badai penolakan berskala global akibat rencana absurd yang sempat diapungkan. Anehnya, PSSI ketika itu justru memilih ikut berlayar bersama sang pemicu badai. Saat UEFA dan CONCACAF menentang serta membarikade pintu mereka, dan AFC selaku rumah tempat sepak bola kita bernaung, ikut menyalakan sirine darurat, PSSI di bawah komando Erick Thohir malah maju dan menyodorkan ikrar kesetiaan tanpa syarat.

Objek pemujaannya adalah wacana pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah entitas "suci" yang sempat dirancang Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk melelang hak komersial turnamen elite, termasuk Piala Dunia, kepada barisan investor swasta. Sebuah rencana brilian yang secara harfiah akan mengubah federasi olahraga terbesar di dunia menjadi semacam firma pialang saham yang lapar dividen.

Kita kesampingkan dahulu kabar terbaru dari FIFA yang sudah membatalakan (atau mungkin saja hanya menunda) rencana tersebut. Kita lebih menyoroti keberanian artifisial yang ditunjukkan oleh PSSI. Bayangkan, di sebuah ruang musyawarah AFC, nyaris semua serempak menggebrak meja. Mereka mencium aroma kebusukan dari proses pengambilan keputusan FIFA yang autokratis, elitis, dan sama sekali tidak transparan karena mengabaikan peran konfederasi. Mayoritas dengan kewarasan penuh menyadari bahwa FFE berisiko menghancurkan konsensus dan mengancam karakter universal Piala Dunia.

Namun, ada satu negara anggota AFC yang berdiri santai sambil bertepuk tangan riuh mendukung kebijakan FIFA: Benar, itu adalah kita, Indonesia. Sungguh sebuah pencapaian diplomasi yang luar biasa ganjil; menjadi satu-satunya yang bersuara lantang lebih memilih membela makelar asing ketimbang menjaga kewarasan rumah warisan keluarga sendiri. Mengapa harus lelah-lelah memilih bersekutu dengan akal sehat kolektif jika bisa menjadi pion kesayangan sang penguasa global?

Terlepas dari pembatalan rencana itu, pertanyaan besar yang masih menggema adalah: Mengapa Erick Thohir harus bersusah payah memisahkan diri dari keputusan AFC? Apa sebenarnya dilihat oleh sang ketua umum, yang luput dari pandangan puluhan federasi lain? Keuntungan riil macam apa yang dijanjikan di balik pintu tertutup hingga sepak bola Indonesia rela “khilaf” menggadaikan marwah dan solidaritas regionalnya. Apakah dukungan tersebut memberikan manfaat nyata yang luar biasa bagi kita?

Rasanya kita pun sudah sadar, mustahil investor global peduli pada keteraturan agenda Liga Indonesia, repot-repot memikirkan kualitas wasit di kasta kedua kompetisi kita, atau mementngkan masa depan suporter kita. Justru sebaliknya. Privatisasi hak komersial berarti lonjakan harga tiket, komersialisasi hak siar yang ugal-ugalan, dan penggemar perlahan hanya akan diperlakukan sebagai angka statistik di kolom revenue. Mungkin, godaan terbesar adalah kucuran dana segar berupa insentif USD 40 juta di depan mata sebagai imbalan ketaatan. Namun, menggadaikan masa depan independensi olahraga demi injeksi uang tunai adalah definisi klasik dari rabun jauh manajerial.

Kaum pemodal swasta (private equity), yang sedianya akan menguasai hak komersial turnamen FIFA, tidak memiliki ikatan emosional secuil pun dengan olahraga ini. Bahasa ibu yang mereka pahami hanyalah rasio laba, dan Return on Investment (ROI). Mereka bukan filantropis berhati malaikat yang peduli pada pembinaan usia dini; mereka adalah pemburu finansial yang bersiap menyedot nilai komersial Piala Dunia demi kepuasan pemegang saham.

Di titik inilah kita memaksa kewarasan akal sehat untuk menyelami teori-teori konspirasi yang berserakan liar di udara. Ketika sebuah kebijakan tidak lagi bisa dijelaskan secara logis melalui kacamata kepentingan kolektif, sangat patut dicurigai adanya agenda yang menunggangi institusi. Apalagi, Erick Thohir melihat potensi suntikan dana dari FFE sebagai katalis vital. Dana besar dianggap krusial untuk melanjutkan transformasi sepak bola Indonesia, yang dalam tiga tahun terakhir sukses mendongkrak ranking timnas dari peringkat ke-174 hingga 118. 

Namun, sejak awal kita semua paham bahwa relasi antara Erick Thohir dan Gianni Infantino sudah melampaui batas diplomasi standar. Mereka bak sekutu yang saling menutupi kelemahan di tengah pertempuran politik olahraga. Infantino pernah “menyelamatkan” wajah Indonesia dari sanksi berat pada masa lalu. Pernah “membantu” ketika sepak bola Indonesia baru dihantam tragedi besar. Seolah, tiba saatnya bagi Erick Thohir untuk membalas budi ketika sang patron sedang dikeroyok oleh perlawanan global.

Namun, bukan nggak mungkin juga dukungan PSSI adalah bentuk penumpukan "kredit poin" atau investasi politik pribadi. Panggung tata kelola sepak bola global adalah batu loncatan yang teramat seksi bagi para elite. Sangat logis jika publik curiga dan mempertanyakan apakah ada lobi-lobi rahasia mengenai kursi empuk di Komite Eksekutif (Exco) FIFA di masa depan. Ataukah mungkin, ada booking posisi prestisius sebagai komisaris di dalam struktur FIFA Forward Enterprise kelak ketika masa jabatan di tanah air sudah purna?

Apa pun kebenaran dari setiap dugaan tersebut, sejatinya sungguh malang nasib sepak bola kita. PSSI yang niat luhurnya didirikan untuk menjadi tameng pelindung kepentingan klub, tim nasional, dan pecinta sepak bola Tanah Air, justru direduksi dan dibajak menjadi sekadar alat barter politik tingkat tinggi demi memuluskan ambisi elite segelintir orang.

Keputusan Erick Thohir beberapa waktu lalu untuk memberikan dukungan penuh pada rencana FFE bukanlah sekadar perbedaan opini administratif biasa. Ia adalah tragedi akal sehat sekaligus bentuk pengkhianatan terhadap filosofi dasar sepak bola. Dengan membiarkan barisan investor swasta mendikte arah komersial Piala Dunia, PSSI secara aktif berpartisipasi dalam pergeseran paksa prioritas olahraga ini. Masuknya modal swasta ke dalam struktur tata kelola tertinggi sepak bola akan mengubah orientasi menjadi sepenuhnya entitas bisnis demi dividen investor, mengikis nilai historis dan kontrol independen. 

Hak-hak tim nasional akan senantiasa dikorbankan demi turnamen-turnamen artifisial yang dipaksakan jadwalnya hanya karena ada sponsor yang berani membayar mahal. Karakter universal Piala Dunia yang seharusnya menjadi festival olahraga inklusif milik semua kelas sosial, perlahan akan dimutasi menjadi kelab eksklusif bergaya korporat yang hanya melayani kaum berdompet tebal.

Pada akhirnya, sejarah akan mencatat dengan tinta ironi yang sangat kental. Pada saat sisa dunia bersatu menolak privatisasi jiwa sepak bola, Indonesia melalui PSSI justru tampil sebagai kurir yang dengan bangga mengantarkan pedang kepada sang algojo. Erick Thohir mungkin telah sukses membuktikan loyalitas absolut kepada Gianni Infantino. Namun pada saat yang sama, mempertontonkan bahwa di tangan para teknokrat bermental kapitalis, harga diri, sejarah, dan masa depan sepak bola tidak lebih dari sekadar aset yang siap dilego tanpa rasa bersalah di lantai bursa.

Timor Leste vs Indonesia: Rotasi Tetap Wajib Pesta Gol
Artikel sebelumnya Timor Leste vs Indonesia: Rotasi Tetap Wajib Pesta Gol
Artikel selanjutnya
Artikel Terkait